Jakarta — Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kehutanan menggelar Rapat Koordinasi Penyusunan The State of Indonesia’s Forests (SOIFO) 2026 pada Senin (2/12) di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Rapat ini menjadi langkah awal untuk menyepakati arah, struktur, dan pesan utama buku SOIFO 2026 agar selaras dengan kebijakan nasional serta isu global kehutanan.
SOIFO merupakan dokumen strategis yang memotret kondisi, dinamika, dan arah pengelolaan hutan Indonesia secara komprehensif. Dalam rapat tersebut ditegaskan bahwa SOIFO 2026 tidak hanya akan berisi data dan statistik, tetapi juga narasi kebijakan yang kuat dan komunikatif bagi publik nasional maupun internasional.
Pembahasan mencakup gambaran kondisi hutan Indonesia, seperti luas kawasan hutan, tutupan hutan aktual, serta tren perubahan tutupan hutan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, isu deforestasi, degradasi hutan, pemulihan ekosistem, serta peran sosial masyarakat menjadi perhatian utama. Perhutanan sosial, keterlibatan masyarakat adat dan lokal, penyelesaian konflik tenurial, hingga partisipasi perempuan dan pemuda dinilai perlu mendapat porsi yang memadai.
SOIFO 2026 direncanakan mengusung tema “The State of Indonesia’s Forests 2026: Nexus Climate, Economy, and Society” dan disusun dalam enam bab. Struktur ini menekankan tiga pilar kehutanan, yakni pelestarian lingkungan, pengembangan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia terhadap reformasi tata kelola hutan, ketahanan pangan melalui agroforestri, serta aksi iklim global.
Dalam sesi diskusi, peserta rapat menyoroti pentingnya konsistensi dan transparansi data, termasuk penetapan batas waktu (end date) data yang jelas. Kehati-hatian dalam menyampaikan isu sensitif juga menjadi perhatian agar SOIFO 2026 tetap kredibel dan mampu menjawab berbagai sorotan publik serta komunitas internasional.
Penyusunan SOIFO 2026 akan dilakukan melalui beberapa tahapan hingga pertengahan 2026, mulai dari penyusunan draf awal, integrasi narasi, hingga proses review dan produksi. Melalui buku ini, Kementerian Kehutanan berharap dapat menghadirkan gambaran utuh kehutanan Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diskursus kehutanan global.